(+) “Eh Mas, Loe lihat bapak-bapak yang pakai kemeja garis-garis dan pakai topi itu enggak?”

(-) “Oh, orang tua yang berkumis itu ya? Iya, Gue lihat, emang kenapa?”

(+) “Iya yang itu. Perasaan dari tadi Gue perhatiin sikapnya agak mencurigakan.”

(-) “Mencurigakan gimana? Dia kan dari tadi cuma berdiri di depan loket aja. Emangnya salah?”

(+) “Berdirinya sih enggak salah, cuma yang salah kenapa dia berdirinya di samping orang yang lagi ngantri, bukan di belakangnya?”

(-) “Ya, mungkin aja lagi gantiin antrean temannya. Kan Loe bisa lihat sendiri kalau antrian-nya panjang banget kayak gitu.”

(+) “Iya juga sih, kalau lagi musim lapor SPT gini antreannya udah kayak orang mau ambil BLT.”

(-) “Omongan Loe udah kayak tukang buah aja, pakai bawa musim segala. Kalau antreannya kayak gini terus, kita bisa buka lapak nih.”

(+) “Hahaha… maklum aja Gue kan anaknya tukang buah, jadi paham banget musim buah. Btw, Loe mau buka lapak buah di KPP ini, Mas?”

(-) “Ya ampun Erik Pratama, otak Loe kok isinya cuma buah aja. Enggak ada yang lain apa selain buah?”

(+) “Ya sorry Mas, emang Loe mau buka lapak apa sih?”

(-) “Gue mau jual jasa di sini. Loe mau ikut enggak?”

(+) “Jual jasa? Jasa apa yang mau Loe tawarin?”

(-) “Gue mau jadi calo di kantor pajak ini.”

(+) “Hah, yang bener? Awas Loe entar dipenjara kayak Rafael Alun.”

(-) “Sorry, Gue bukan jadi calo pajak ala Bang Rafael Alun yang ngecilin pajaknya perusahaan-perusahaan besar.”

(+) “Kalau gitu Loe mau jadi calo kayak apa?”

(-) “Gue mau jadi calo antrean aja, buat gantiin Wajib Pajak yang lagi antre laporin SPT Tahunan-nya atau ke
        customer service-nya .

(+) “Cemerlang juga ide Loe! Tapi, Loe hati-hati ya kalau jadi calo di sini.”

(-) “Kenapa Gue harus hati-hati? Gue kan cuma nolong orang di sini.”

(+) “Bukan masalah nolong-nya, tapi pajaknya. Loe harus siap-siap dikenain PPN kalau klien Loe Wajib Pajak yang udah PKP.

(-) “Oh gitu ya, tapi kok Gue dikenain PPN sih? Apa karena Gue jadi calo di kantor pajak ini?”

(+) “Bukan masalah tempatnya, tapi karena jasanya.”

(-) “Lho, kok jasanya sih? Emang jasa percaloan itu termasuk jasa yang dikenain pajak ya?”

(+) “Iya, lebih tepatnya jasa perantara.”

(-) “Wah kalau gitu kapan Gue bisa kaya?”

(+) “Ya, Loe harus siap mental aja.”

(-) “Bisa enggak biar Gue bebas PPN?”

(+) “Gimana kalau Loe jadi calo karcis di terminal aja, Bro?”

(-) “Jadi calo karcis, bukannya tetep kena PPN? Kan sama-sama nyerahin jasa perantara juga.”

(+) “Betul, tapi kan Loe bakal kena PPN kalau pemakai jasa Loe udah PKP. Kalau belum, enggak akan dikenain PPN. Menurut Gue, Loe lebih pantes jadi calo pajak ketimbang jadi calo karcis.”

(-) “Emang kenapa?”

(+) “Soalnya gaya sama potongan rambut Loe mirip banget Gayus, Bro. Hahaha…”

(-) “Penampilan boleh mirip, tapi soal akhlak insya Allah kagak bakal, Bro.”

Back To Top