Di sebuah ruang tunggu antrian loket rumah sakit, Dirga tengah asyik memainkan smartphonenya. Tiba-tiba dari belakang seorang perempuan cantik menepuk bahunya. Sontak, Dirga terperanjat dan segera membenarkan posisi duduknya. “Devi, ngapain Lo di sini?” tanya Dirga terkejut. “Yee, Gue kali yang nanya ngapain Lo ke sini. Gue lagi check up lah biasa.” Balas Bella menjelaskan. “Oh, Lagi chek up toh..” Ucap Dirga sedikit canggung. Tangan kirinya mencoba menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Hahaaaa… emang Lo, modusin cewe doang, buruan lamar. Eh, ngapain Lo di sini, mau chek up juga?” tanya Devi. “Jyaaa.. Gue lagi sakit nih. Sakit jiwa raga nih Gue.” Balas Dirga datar.
Devi mengambil posisi duduk di samping Aldi. “Sakit apa emang Lo?” tanya Devi serius. “Tahu nih, sakit hati kayaknya, hahaaa..” jawab Dirga asal. “Serius nih, sakit apaan? Bisa sakit juga ya Lo, hahaaa..” ledek Devi. “Yee… gini-gini Gue juga manusia kali. Tahu nih.. Gue suka migrain gitu. Dari pada ada apa-apa Gue pengin konsultasi ke dokter.” Jawab Dirga. “Bagus deh, terlalu serius sih Lo orangya, dulu waktu kuliah juga kalo enggak dapet nilai A, Lo protes ke dosennya. Hahaaaa..” ucap Devi sambil tertawa meledek ke arah Dirga. “Yeee.. karena itu Gue jadi Mapres ya, hahaaa..” balas Dirga tak mau kalah. “Tapi, enggak gitu juga keleus, hahaa..” sahut Devi.
Dirga kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia menyenderkan punggunya ke belakang kursi. “Iya, juga yaa.. kebanyakan mikir kali Gue, makanya migraine nih. Di tambah kerjaan Gue yang sekarang rempongnya bukan maen.” Curhat Dirga ke Devi. “Nah, tuh Lo nyadar… santai aja keleus hidup, yang penting sehat. Emang Lo kerja di mana sekarang?” tanya Devi. “Di konsultan pajak Dev. “Jawab Dirga. Wuidih konsultan toh sekarang, “sahut Devi. Nah itu dia makanya Gue sering migran mikirin kerjaan yang enggak ada habisnya, “keluh Dirga.
Nah mumpung Lo kerjanya di konsultan Gue mau tanya donk?” tanya Devi. “Khusus sama Lo nanti bayarannya bersedia ya Gue ajak diner hehe, “ledek Dirga. Gampang soal diner mah yang penting Gue tanya dulu dah, “ujar Devi. Emangnya Lo mau tanya apa sih?” tanya Dirga.
Jadi gini, apakah dengan adanya PP 58 tahun 2023, tarif Pasal 17 dalam UU PPh sudah tidak lagi berlaku? “Tanya Devi. Hmmm coba Lo liat Dalam Pasal 2 ayat (1) PP 58 tahun 2023 ditegaskan bahwa tarif pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan dan Tarif Efektif pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21. Adapun penggunaan tarif efektif tersebut berlaku untuk masa pajak pertama sampai dengan masa pajak sebelum masa pajak terakhir (misalnya Januari sampai dengan November). Nantinya, pada masa pajak terakhir (misalnya Desember) atau pada saat penghitungan kembali pemotongan PPh Pasal 21 selama 1 tahun pajak, pemotongan tetap harus merujuk pada ketentuan tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh. Sehingga dapat simpulkan bahwa tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh tetap berlaku meskipun telah terbit ketentuan tarif efektif PPh Pasal 21 dalam PP 58 tahun 2023, “ungkap Dirga. Owh Jadi tetap berlaku ya?” tanya Dirga untuk memastikan. Yups betul banget itu, nah kan sudah Gue jawab ini, bagaimana kalo nanti malam kita diner di tempat favorit waktu kuliah dulu. “Ujar Dirga. Oke siap siapa takut, anggap aja nostalgia kita hahaha, “sahut Devi. Nah kalo kayak gini kan migran Gue jadi sembuh tanpa harus minum obat hihihi,”ujar Dirga.
