Aku Butuh Kamu, Bukan Surat Cintamu…
(-) “Lo kenapa, Dil?”
(+) ”Enggak ada apa-apa, Kak.”
(-) ”Bohong banget, tampang Lo tuh kayak anak ayam kehilangan induknya.”
(+) ”He… he… he… Biasa Kak, bingung soal Susi.”
(-) “Susi calon istri Lo itu?”
(+) “Iya lah, emangnya siapa lagi?”
(-) ”Siapa tahu ada Susi yang lain, he… he… he…. Terus apa yang bikin Lo jadi bingung begitu?”
(+) ”Jadi ceritanya begini, Kakak kan tahu, selain kerja di sini saya juga punya usaha kecil-kecilan buka counter HP di mall deket rumah saya. Lumayan Kak buat nambahin modal nikah saya sama Susi.”
(-) ”Ya, bagus dong…. Terus apa yang jadi masalahnya?”
+ ”Kemarin saya dapat surat teguran.”
- “Surat teguran dari calon mertua Lo? Hebat juga ya calon mertua Lo, ngasih ultimatum sampai bikin surat teguran segala. Pasti disuruh buru-buru ngawinin anaknya ya?”
+ ”Aduuuh, pinter-pinter oneng juga ya nih orang. Maksudnya saya dapat Surat Teguran dari KPP tempat saya buka counter HP, Mbak….”
- “Surat Teguran? Tentang apa?”
+ “Surat Teguran karena saya belum lapor PPh Pasal 25 atas usaha counter HP saya itu Kak.”
- “Hmmm, tapi setahu Gue seharusnya KPP menerbitkan STP alias Surat Tagihan Pajak dulu, bukan Surat Teguran. Salah satu STP dikeluarkan oleh KPP karena orang pribadi yang mempunyai gerai atau counter tidak melakukan pembayaran PPh Pasal 25. Emangnya Lo enggak pernah setor PPh Pasal 25, Dil?”
+ “Emang harus, ya? Setahu saya, bukannya saya tinggal lapor PPh langsung di SPT Tahunan orang pribadi aja. Lagian counter saya kan baru jalan 3 bulan. SPT saya tahun lalu kan nihil, karena penghasilan saya hanya dari gaji aja belum punya usaha seperti sekarang. Hitung PPh Pasal 25-nya gimana?”
- “Waaah…ketinggalan berita Loe. Enggak pernah baca ITR sih….”
+ “Emang pernah dibahas di ITR ya, Kak?”
- “Pernahlah. Atau coba deh Loe baca Pasal 25 ayat (7) huruf c UU PPh. Di dalam pasal itu kan disebutkan soal perhitungan PPh Pasal 25 bagi WP Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP OPPT) dihitung dari bruto sebesar 0,75%.”
+ “Ooo…gitu, jadi saya termasuk WP OPPT?”
- “Iya. Nah, kalo Lo enggak bayar PPh Pasal 25-nya. Lo bakal dikirimin STP dari KPP tempat Lo buka gerai itu.”
+ ”Saya sih enggak masalah Kak harus bayar berapapun pajaknya, masalahnya sekarang ada di Susi.”
- ”Kenapa lagi?”
+ ”Soalnya, saya terpaksa harus menunda pernikahan karena saya harus bayar pajak dulu.”
– “Makanya, kasih pengertian dong ke Susi, dia pasti ngerti kok.”
+ “Saya udah jelasin semuanya ke Susi lengkap dengan senyum termanis saya, tapi Anti enggak mau terima, Kak.”
- ”Enggak terima gimana? Dia udah ngebet banget ya pengin nikah sama Lo?”
+ ”Hmm, Susi bilang aku butuh kamu, bukan Surat Cintamu, Kak.”
- ”Ha… ha… ha… itu sih derita Lo, Dil. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik buat Lo.”
+ ”@#$%^?!”
